BONE — Kesiapsiagaan menghadapi bencana alam terus diperkuat jajaran Korem 141 Toddopuli Kodam XIV Hasanuddin.
Hal itu ditunjukkan melalui pelaksanaan Apel Gelar Pasukan Latihan Lapangan Penanggulangan Bencana Alam Tingkat Korem 141 Toddopuli TA 2026 dengan sandi Perisai Petir, yang digelar di Lapangan Dulung’na, Kelurahan Pompanua, Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone, Senin 24 Agustus 2026.
Apel dimulai sekitar pukul 07.00 Wita dan dipimpin Kasi Ops Kasrem 141 Toddopuli, Kolonel Inf Moch Rizqi Hidayat Djohar.
Kegiatan tersebut melibatkan personel TNI, Polri, pemerintah daerah dan berbagai unsur terkait. Turut hadir Danrindam XIV Hasanuddin Brigjen TNI Budiawan Basuki, Danrem 141 Toddopuli Kolonel Inf Robinson Tallupadang, S.I.P., M.H., Dandim 1407 Bone Letkol Inf Laode Muhammad Idrus, serta sejumlah pejabat Korem 141 Toddopuli dan unsur Forkopimda terkait.
Dalam amanatnya, Kolonel Inf Moch Rizqi Hidayat Djohar menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana, khususnya banjir, tanah longsor, angin kencang hingga kebakaran lahan.
Kecepatan dan ketepatan dalam mengambil tindakan, menurutnya, harus dibarengi koordinasi yang kuat agar setiap unsur dapat menjalankan tugas sesuai tanggung jawabnya tanpa terjadi tumpang tindih di lapangan.
Sinergitas antara TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan hingga masyarakat juga menjadi bagian penting dalam penanggulangan bencana.
Latihan ini tidak sekadar menjadi simulasi, tetapi juga menjadi sarana mengukur kesiapan personel, peralatan serta prosedur yang akan digunakan ketika menghadapi kondisi bencana yang sebenarnya.
Usai apel, peserta kemudian dibagi ke sejumlah sektor dan titik latihan. Pembagian tersebut dipimpin Pasi Ops Kodim 1407 Bone Kapten Inf Ahyar Budiman, S.Kom.
Latihan berlangsung dengan melibatkan satu tim SAR Yon C Pelopor Brimob Polda Sulsel, tim dapur lapangan Denbekang XIV.1 A Bone, personel Korem 141 Toddopuli, Balakrem, Kodim 1407 Bone, Polres Bone, Satpol PP, Pemadam Kebakaran, BPBD serta Dinas Kesehatan.
Setelah rangkaian latihan lapangan selesai sekitar pukul 10.50 Wita, dilakukan apel pengecekan dan pengarahan Dandim 1407 Bone.
Dalam arahannya, Dandim menegaskan bahwa kesiapsiagaan dan kewaspadaan harus menjadi perhatian seluruh personel. Setiap unsur dituntut memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing serta mampu bertindak cepat ketika situasi darurat terjadi.
Dandim juga menekankan pentingnya meningkatkan koordinasi dan sinergitas antarlembaga. Hasil latihan diminta menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki setiap kekurangan yang ditemukan selama pelaksanaan.
Keselamatan masyarakat dan personel juga menjadi prioritas utama dalam setiap tindakan penanggulangan bencana.
Arahan kemudian dilanjutkan oleh Danrem 141 Toddopuli. Seluruh personel diminta menjadikan latihan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapsiagaan di lapangan.
Danrem juga menekankan pentingnya komunikasi, koordinasi dan sinergitas antara TNI, Polri, pemerintah daerah serta seluruh instansi terkait.
Dalam kondisi bencana, seluruh personel harus mampu bekerja dengan cepat, tepat dan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat maupun petugas.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyaluran bantuan sembako kepada masyarakat sekitar. Danrem 141 Toddopuli didampingi Dandim 1407 Bone turut menyampaikan testimoni terkait pelaksanaan kegiatan tersebut.
Evaluasi latihan selanjutnya digelar di Aula Petta Ponggawae, Kecamatan Ajangale, sekitar pukul 11.10 Wita.
Dalam evaluasi tersebut, Danrem 141 Toddopuli selaku Wakil Komandan Latihan menyampaikan bahwa secara umum latihan lapangan penanggulangan bencana alam berjalan baik dan sesuai dengan skenario.
Meski demikian, sejumlah aspek masih perlu ditingkatkan, terutama koordinasi, komunikasi, kesiapsiagaan personel dan kecepatan dalam mengambil keputusan di lapangan.
Sementara itu, Danrindam XIV Hasanuddin selaku Komandan Latihan juga menilai pelaksanaan latihan secara umum berjalan sesuai rencana.
Namun, hasil evaluasi tetap menjadi perhatian untuk meningkatkan kemampuan seluruh unsur dalam menghadapi bencana yang sebenarnya.
Latihan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan simulasi semata. Lebih dari itu, kesiapan personel, kemampuan berkoordinasi dan kecepatan memberikan bantuan kepada masyarakat harus benar-benar terbangun ketika bencana terjadi.











