Example 728x250
Bone

Bayi Meninggal dalam Kandungan di RSUD Tenriawaru Bone, Keluarga Pertanyakan Respons Medis

3
×

Bayi Meninggal dalam Kandungan di RSUD Tenriawaru Bone, Keluarga Pertanyakan Respons Medis

Sebarkan artikel ini

 

Public,Soppeng– Duka mendalam menyelimuti keluarga bayi laki-laki yang meninggal dalam kandungan saat menjalani perawatan di RSUD Tenriawaru, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Di tengah kehilangan tersebut, keluarga mempertanyakan proses penanganan medis yang dinilai lambat merespons ketika kondisi ibu dan janin disebut semakin memburuk.

Nenek bayi, Rahmawati, meminta pihak rumah sakit dan dokter yang menangani menantunya memberikan klarifikasi secara terbuka mengenai kronologi perawatan hingga bayi dinyatakan meninggal dalam kandungan.

Keluhan tersebut disampaikan Rahmawati dalam konferensi pers di kediamannya, Jalan Hos Cokroaminoto, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, Kamis (15/10/2026). Ia didampingi ayah bayi, Andi Muhammad Aldiansyah.

Dalam suasana penuh kesedihan, Rahmawati menceritakan pengalaman yang dialami keluarganya sambil menggendong jenazah cucunya. Ia beberapa kali tak kuasa menahan tangis saat mengungkapkan rangkaian peristiwa yang menurutnya menyisakan sejumlah pertanyaan.

Menurut penuturan Rahmawati, menantunya telah beberapa kali menjalani perawatan di RSUD Tenriawaru setelah mengalami kontraksi dan sejumlah keluhan kesehatan.

Pada perawatan pertama, pasien menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan medis. Keluarga kemudian menerima informasi bahwa pasien memerlukan suntikan untuk membantu pematangan paru-paru bayi.

Setelah menjalani perawatan selama sekitar dua hingga tiga hari, pasien diperbolehkan pulang. Namun, beberapa waktu kemudian, ia kembali dirawat di rumah sakit akibat sakit perut yang disertai muntah dan diare.

Kondisi kembali mengkhawatirkan ketika pasien mengalami kram perut, disertai keluarnya darah dan lendir dari jalan lahir.

Situasi tersebut membuat keluarga mempertanyakan respons tenaga medis serta pemantauan terhadap kondisi ibu dan janin. Keluarga juga mempertanyakan pertimbangan medis terkait belum dilakukannya tindakan operasi ketika kondisi pasien disebut semakin memburuk.

Rahmawati menuturkan, keluarga mendapat penjelasan bahwa berat badan bayi saat itu belum mencapai dua kilogram. Informasi tersebut menjadi salah satu hal yang ingin mereka klarifikasi kepada pihak rumah sakit, terutama mengenai pertimbangan medis dalam menentukan tindakan selanjutnya.

Pada pagi harinya, Rahmawati mengaku kembali menghubungi dokter melalui pesan WhatsApp untuk menanyakan kondisi menantunya sekaligus meminta petunjuk medis.

Sementara itu, Andi Muhammad Aldiansyah menuturkan bahwa detak jantung bayi sempat disebut meningkat hingga 160 kali per menit, sebelum turun menjadi sekitar 80 kali per menit.

Pasien kemudian dibawa ke ruang operasi. Namun, bayi laki-laki tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dalam kandungan.

Rangkaian peristiwa itu menjadi dasar pertanyaan keluarga mengenai kecepatan respons tenaga medis, pemantauan kondisi ibu dan janin, serta pertimbangan klinis yang diambil selama proses perawatan.

Rahmawati menegaskan, kekecewaannya bukan semata-mata karena cucunya meninggal dunia. Ia memahami bahwa kematian merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, tetapi mempertanyakan proses penanganan yang menurutnya lambat ketika menantunya membutuhkan perhatian khusus.

“Kalau ajal namanya semua pasti meninggal. Tidak ada yang bisa menolak kematian. Tapi saya kecewa karena ada proses yang saya anggap lambat,” kata Rahmawati.

Ia berharap pihak rumah sakit dan dokter yang menangani memberikan penjelasan secara terbuka, khususnya mengenai alasan medis di balik penanganan yang diberikan ketika kondisi menantunya disebut semakin memburuk.

“Saya tunggu klarifikasi dari pihak rumah sakit dan pihak dokter yang menangani. Saya mau tahu apa alasannya, alasan medisnya apa,” ujarnya.

Mengenai kemungkinan menempuh jalur hukum, Rahmawati mengatakan keluarga belum mengambil keputusan. Mereka masih mempertimbangkan langkah selanjutnya setelah memperoleh penjelasan dari pihak-pihak terkait.

“Untuk langkah hukum, nanti saya pertimbangkan kembali setelah mengetahui semua penjelasan dari pihak-pihak terkait,” katanya.

Sementara itu, pihak RSUD Tenriawaru telah dikonfirmasi terkait peristiwa tersebut. Namun, hingga berita ini disusun, redaksi belum menerima respons resmi dari pihak rumah sakit.

Belum ada penjelasan resmi yang diterima redaksi mengenai kronologi penanganan pasien, pertimbangan tindakan medis, perkembangan kondisi ibu dan janin, maupun penyebab bayi meninggal dalam kandungan.

Perlu ditegaskan bahwa keterangan yang disampaikan keluarga merupakan versi mereka atas peristiwa tersebut dan belum dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan adanya kelalaian medis. Penilaian yang menyeluruh memerlukan penjelasan dari rumah sakit dan dokter yang menangani, serta penelaahan terhadap rekam medis dan kondisi klinis pasien.

Klarifikasi pihak rumah sakit menjadi penting agar seluruh rangkaian peristiwa dapat diketahui secara utuh sekaligus menjawab pertanyaan keluarga yang tengah berduka.

Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih membuka ruang bagi pihak RSUD Tenriawaru maupun dokter yang menangani untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan demi keberimbangan informasi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 325x300