Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
akmal pasluddinbupati bonedinas kebudayaanpemda bonewakil bupati bone

Narasi Budaya yang Mengalir di Pelataran Museum: Festival Seni dan Budaya Bone Kembali Hidupkan Warisan Leluhur

1
×

Narasi Budaya yang Mengalir di Pelataran Museum: Festival Seni dan Budaya Bone Kembali Hidupkan Warisan Leluhur

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Bone, — Angin sore yang berembus pelan di pelataran Museum La Pawawoi membawa aroma nostalgia akan kejayaan budaya Bugis. Di bawah langit biru Tanete Riattang, langkah-langkah kecil para pelajar dari berbagai penjuru Bone memadati arena Festival Seni dan Budaya Volume II. Suara suling dan gemuruh gendang tradisional membuka tirai perayaan budaya yang sarat makna—sebuah momentum yang tak hanya meriah, tetapi menyentuh relung batin akan pentingnya menjaga warisan leluhur.

Example 300x600

Dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M., festival ini menjadi penanda bahwa seni dan budaya di Bumi Arung Palakka tidak pernah padam. Dalam sambutannya yang hangat, Andi Akmal menyampaikan apresiasinya terhadap Dinas Kebudayaan yang tetap mampu berinovasi dan menghidupkan ruang ekspresi budaya, meski berada di tengah keterbatasan anggaran.

“Di tengah efisiensi dan keterbatasan, Dinas Kebudayaan tetap melangkah. Mereka tidak menyerah, bahkan terus berkreasi. Saya bangga. Bahkan kemarin, saya sempat menghadiri kegiatan mereka di Grand Nur, dan saya menyaksikan betul semangat yang luar biasa,” ucapnya, dengan suara yang penuh ketulusan.

Festival ini terasa semakin istimewa karena digelar bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional. Ratusan pelajar dari tingkat SD dan SMP/Sederajat hadir tidak hanya sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku budaya. Mereka menari, bernyanyi, bertutur cerita rakyat, dan memerankan kisah-kisah Bugis klasik dengan penuh percaya diri.

Wakil Bupati menekankan bahwa budaya bukan sekadar tontonan. Budaya, katanya, adalah jati diri. Ia menjadi perekat sosial dan pondasi moral generasi muda, terutama di tengah arus globalisasi yang tak terbendung. Dalam pandangannya, jika Bone ingin menjadi destinasi wisata yang lengkap, maka pengembangan budaya harus sejajar dengan pembangunan infrastruktur.

“Kita tengah bersiap menyambut peningkatan aksesibilitas lewat Bandara Arung Palakka. Ketika pesawat besar bisa mendarat, maka kita harus siap menyambut dengan bukan hanya pemandangan indah, tapi juga pengalaman budaya yang tak terlupakan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Hj. Andi Murni AL, S.E., M.Hum., tampil dengan senyum bangga. Baginya, festival ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang yang tumbuh bersama anak-anak Bone. Ia menyebutkan bahwa konsep tahun ini memang dirancang lebih inklusif dan edukatif, memberi kesempatan kepada generasi muda untuk tampil dan mencintai budayanya sendiri.

“Kami ingin anak-anak Bone tak hanya tahu tari dan musik tradisional, tapi juga merasakannya. Menjadi bagian dari itu. Ini soal identitas, rasa percaya diri, dan kebanggaan akan budaya Bugis yang luhur,” ujarnya.

Festival ini juga menjadi bukti nyata sinergi lintas elemen, karena turut melibatkan Tim Penggerak PKK Kabupaten Bone, termasuk kehadiran Wakil Ketua TP PKK, Hj. Maya Damayanti Andi Akmal, S.P. Dukungan juga datang dari berbagai OPD, tokoh masyarakat, dan para pegiat seni lokal yang selama ini setia menjadi penjaga napas budaya Bone.

Di penghujung acara pembukaan, anak-anak tampak berlarian, tertawa sambil memegang kain sarung dan properti tari. Ada harapan yang tumbuh di mata mereka—harapan bahwa budaya bukan hanya masa lalu, melainkan masa depan yang harus dijaga bersama

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *